Kamis, 3 September 2009

Selamat malam,

Hari ini bersemangat banget untuk kerja.. mungkin karna merasa ndak terbeban atas tugas hari ini.. Padahal pagi ini Pak Eli ndak bisa masuk kerja karna sakit mata.

Setelah makan pagi di Soto Semarang -eh.. ini aku makan tanpa Pak Eli hehehe-, langsung ke kantor, urusin administrasi karena hari ini harus realisasi kredit di Butuh Lor. Semua aku coba kerjakan sendiri. Setelah selesai, baru mengumpulkan data dari teman-teman untuk membuat final report. Sejujurnya, aku ngrasa berat banget harus ngerjain final report di sela-sela pekerjaanku sebagai staf lapang. Tapi… enjoy aja kalee ya…

Siang hari setelah makan siang dengan Shanty dan Ambar… eh hari ini Bagus ikut makan siang bareng lho… Aku langsung pergi untuk realisasi.. brangkat sendiri bawa uang bejibun.. Sebelnya sampe desa, belum banyak yang kumpul.. siapa yang butuh uang ya… 😦

Wakaka… dah mau pulang..anggota kelompok nanyain uang kelompok yang dibawa Mbak Widhi… alamak… aku ndak dititipin… 😦 setelah berkoordinasi dengan Mbak Widhi.. dia bilang lupa kasi uang kelompok ke aku… nah lho…??? akhirnya.. mereka harus kumpul lagi deh besok…

Jam 15.45 baru kelar.. pulang ke rumah.. langsung pergi ke Bumiayu. Hari ini memang rencana cari data untuk program ternak penggemukan. Buanyak data yang diperoleh.. tentu saja untuk ngembangin program penggemukan, yang kayaknya masih perlu penyempurnaan.

Sampe rumah.. Pak Eli dah siap badminton, padahal ada kebaktian di rumah..walhasil… cuapek seharian deh…

Malam hari susah tidur… batuk ndak sembuh-sembuh hehehe

tapi… hari ini sangat menyenangkan.. ada yang bantu kerja hehehe 🙂

I love my job…!

Published in: on September 3, 2009 at 4:35 pm  Leave a Comment  

menikmati pekerjaan di Juworo

hai,

ada cerita menarik ketika aku dan beberapa teman di tugaskan pergi ke Desa Juworo. Desa ini merupakan salah satu desa tempat kami belajar bersama masyarakat. Meskipun perjalanan menuju ke sana relatif jauh, tapi kami berangkat kerja dengan hati gembira… anggap aja piknik :))

tapi, setiap ada teman kantor yang ditugaskan ke Desa Juworo, selalu aja ada keluhan. Tahu ndak kenapa?… karena disana ndak ada warung makan..hahaha.. malu juga kan kalau mengharapkan dapat makan siang dari masyarakat desa.

akhirnya ni.. kami sepakat untuk membeli bekal makan siang dulu sebelum sampai di Desa Juworo. Ayam goreng kremes tulang lunak di Gemolong menjadi pilihan makan kami. Uenak buanget.. murah lagi. satu potong ayam goreng Rp 6.500. Eh,satu lagi ada menu yang enak juga lho.. es kelapa muda rasa lemon… sip tenan harganya cuma Rp 2.500..

kembali ke Desa Juworo. Di desa ini banyak hutan jatinya. Walhasil, lokasi hutan menjadi pilihan kami untuk makan siang… bener-bener seperti piknik kan… [jangan-jangan Pak Direktur marah ni… :)]

Pergi mengunjungi masyarakat juga menarik lho.. soalnya kami harus melewati sungai dan rel kereta api untuk mengunjungi mereka.. asyik… lagi-lagi seperti piknik…

Kapan-kapan, kalau ada temen-temen yang pengen ikut ke Desa Juworo kabari aku.. ayo main ke Juworo.. tapi ndak ada duren disana hehehe..

I love this job…

dingin...nonkrong di ayam kremes

makan di hutanfoto-121

foto-43foto-11

Published in: on February 25, 2009 at 8:10 am  Leave a Comment  

bersyukur…

apa lagi yang masih kurang buat aku..

i’m a blessed woman, punya suami yang baik, anak perempuan yang pinter, pekerjaan yang baik… trus apa lagi…?

kadang aku penuhi hari-hariku dengan keluhan. capek bacain dan  nyuapin Alethea, sebel ditinggal Mas Eli dengan hobi fotografi dan kerjaannya yang menumpuk… Hari-hariku cuma dipenuhi dengan kekesalan…!!!

hari ini aku belajar, bahwa seharusnya ndak harus selalu mencari keburukkan dalam hidup.. knapa capek bacain buku dan nyuapin Alethea? Toh dia anak yang selama ini kami harapkan? anak yang pinter nyanyi, pinter menari dan pandai menirukan gaya orang bermusik.

kenapa harus sebel dengan kesepian karena ditinggal Mas Eli dengan hobi dan kerjaannya? Toh, hobinya itu yang membuat aku dulu memilih dia. dan kerjaan menumpuknya yang membuat kami bisa hidup lebih baik..

Tidak selamanya perasaan sedih diwujudkan dengan umpatan kekesalan. perasaan syukur atas segala yang terjadi -suka atau duka- akan membuat hidup ini menjadi lebih baik..

Minta maaf buat Alethea dan Mas Eli kalau aku masih sering mengumpat…

Terima kasih buat Ninik, Natung, dan Hetty, atas inspirasinya..

Published in: on January 18, 2009 at 2:57 pm  Leave a Comment  

indahnya persahabatan

foto-14foto-33foto-63

sebuah peristiwa yang benar-benar menyenangkan..

bagaimana tidak? sahabat yang sudah lama tidak bertemu, akhirnya kumpul bersama diakhir tahun.. FE’94 UKSW, bertemu bersama di Hari Minggu 28 Desember 2008.. sayang tidak banyak yang bisa gabung, tapi untuk pertemuan ini, bukan sekedar kuantitas yang diperlukan.. kualitas pertemuan menjadi hal yang menggembirakan

foto-83

Kami sudah jauh berbeda dengan yang dulu..[kecuali dedy nyamuk hehe..] sudah ada yang membawa anak, ada yang makin gendut [perut dan bibirnya haha], ada yang tambah item.. eh ada juga yang malah tambah muda.. kayak mahasiswa [Acuk..benar-benar seperti masih mahasiswa]

buat teman-teman FE’94 UKSW yang kemarin belum bisa gabung, ini ada sedikit foto untuk mengenang masa indah di FE UKSW dahulu

foto-95

Published in: on January 1, 2009 at 3:08 pm  Leave a Comment  

kebiasaan 7 -asahlah gergaji

Prinsip Pembaruan Diri yang Seimbang

Hai, sampai juga kita ke kebiasaan 7 -kebiasaan terakhir- termasuk posting terakhirku untuk buku the 7 habits of highly effective people.
Seperti bab sebelumnya, bab ini dimulai dengan cerita tentang seseorang yang sedang menebang sebuah pohon di hutan. Dia kelihatan letih sekali “berapa lama anda sudah mengerjakannya?” kita bertanya padanya. “lebih dari lima jam” jawabnya “dan saya lelah!, ini benar-benar kerja keras”. Kemudian kita bertanya “mengapa anda tidak beristirahat saja beberapa menit dan mengasah gergaji itu, setelah itu anda akan dapat bekerja jauh lebih cepat”. Orang itu menjawab “saya tidak punya waktu untuk mengasah gergaji, saya terlalu sibuk menggergaji”
Kebiasaan 7 adalah meluangkan waktu untuk mengasah gergaji. Kebiasaan ini memelihara dan meningkatkan aset terbesar yang kita miliki, yaitu diri kita. Kebisaan ini memperbarui empat dimensi alamiah kita yaitu: [1] Fisik; olah raga taratur [meskipun cuaca tidak baik, tak perlu waktu yang lama. Menjaga kesehatan berarti kita juga bekerja di kuadaran II lho], nutrisi yang tepat, dan manajemen stress, [2] spiritual; penjelasan nilai dan komitmen, studi dan meditasi, [3] mental; membaca, visualisasi, perencanaan, menulis-itu dapat meningkatkan kapasitas diri kita [jangan keseringan nonton TV, pikirkan pengembangan diri juga…],[4] sosial/emosional, pelayanan, empati, sinergi, rasa aman intrisik. “Asahlah gergaji” pada dasarnya berarti mengekspresikan keempat motivasi tersebut. Hal ini berarti menjalankan keempat dimensi sifat kita, secara teratur dan konsisten dengan cara-cara yang bijaksana dan seimbang. Kita perlu mengenali pentingnya meluangkan waktu untuk secara teratur mengasah gergaji pada keempat cara tersebut.
Buat kita yang terlalu sibuke kerja dan kerja.. ingat, luangkan waktu sejenak, untuk mengasah gergaji kita..

Ternyata, kita juga bisa mengubah keadaan dengan mengubah paradigma pikir kita terhadap orang lain. Ketika kita melihat orang yang tidak cerdas, tetapi dalam pikiran kita, kita berpikir dia cerdas, dan kita memperlakukan dia dengan cerdas, menurut penelitian Dr. Covey, orang tersebut bisa menjadi cerdas lho… Wah, aku jadi merasa, tidak baik kita menghakimi seseorang dengan anggapan orang tersebut punya kualitas yang tidak baik. Dalam otak kita sebaiknya ada pikiran yang baik tentang orang lain…

Oke teman, kita sudah belajar dari Dr. Covey tentang bagaimana menjadi orang yang sangat efektif. Gampang-gampang susah.. Tapi sangat baik jika kita berusaha mewujudkannya. Yang penting, “mulai dari dalam, baru keluar…”
Baiklah, sampai ketemu dibuku yang lain.. selamat berkarya 🙂

Published in: on October 3, 2008 at 12:02 pm  Leave a Comment  

kebiasaan 6 – wujudkan sinergi

hai,
kebiasaan ke 6 ini merupakan langkah ketiga dalam hubungan kita dengan orang lain. Menciptakan sinergi. Sinergi ini bisa dianalogikan dengan cara laki-laki dan perempuan membawa seorang anak ke dalam dunia. Intisari sinergi adalah menghargai perbedaan-menghormati perbedaan, membangun kekuatan, mengimbangi kelemahan. Ketika kita benar-benar membuka hati, pikiran, dan ekspresi kita pada kemungkinan baru, alternatif baru, pilihan baru, berarti kita telah berkomunikasi secara sinergik.
Mengapa demikian?, karena ketika kita menghargai perbedaan kita justru akan menambah pengetahuan. Kita dapat menghargai perbedaan dalam diri orang lain. Ketika seorang tidak setuju dengan kita, kita bisa mengatakan, ” bagus!, anda melihatnya dengan cara berbeda” kita tidak perlu setuju dengan orang lain; kita dapat sekedar meneguhkan orang lain. Dan kita dapat berusaha untuk mengerti.
Bersinergi beda dengan kompromi lho… Kompromi berarti 1+1=1 1/2. Keduanya sama-sama memberi dan menerima. Sinergi berarti 1+1 sama dengan 8, 16, atau bahkan 1600. Posisi sinergistik dari kepercayaan yang tinggi menghasilkan solusi yang lebih baik dibandingkan dengan diusulkan semula, dan semua pihak mengetahuinya.
Ketika kita melihat hanya dua alternatif-alternatif diri kita dan alternatif yang “salah”- kita dapat mencari alternatif ketiga yang sinergik. Hampir selalu ada alternatif ketiga, dan jika kita bekerja dengan filosofi menang/menang dan benar-benar berusaha untuk mengerti, kita biasanya dapat menemukan solusi yang akan lebih baik bagi semua pihak yang berkepentingan.

Oke, waktunya untuk merealisasikannya.. 🙂

Published in: on September 30, 2008 at 8:37 am  Leave a Comment  

kebiasaan 5 – berusaha mengerti terlebih dahulu, baru dimengerti

Hai,

Saat ini kita sudah masuk ke kebiasaan 5, tentu saja masih dari buku the 7 habits of highly effective people. Di kebiasaan 4, kita sudah mulai masuk pada kebiasaan dalam hubungan kita dengan orang lain yaitu berfikir menang/menang. Saat ini kita juga belajar pola interaksi kita dengan orang lain. Diawal bab ini, ada cerita menarik. Ada orang yang bermasalah dengan penglihatannya alias susah melihat. Kemudian dia pergi ke ahli kecamata untuk mencari solusi. Sesudah mendengar keluhan secara singkat, si ahli kacamata melepaskan kacamatanya dan memberikan ke orang yang sakit mata. Dia bilang, “kenakan kacamata ini, aku sudah pakai kacamata ini sepuluh tahun, dan kacamata ini benar-benar membantu aku. aku masih punya satu lagi di rumah, yang ini untuk kamu”. Tetapi setelah memakai kacamata itu, orang yang sakit tidak tambah jelas penglihatannya tetapi malah tambah kabur. Ketika si sakit komplain, tukang kacamata marah.. “kamu gimana sih…. maksudku baik, memberi kamu kacamata.. tapi kamu bilang tidak cocok.. kamu benar-benar tidak tahu berterima kasih!”

Cerita itu sebagai contoh, kadang kita langsung memberi solusi pada orang yang minta pertolongan tanpa mau mengerti dahulu apa yang terjadi. Memang benar ya.. mendengar itu susah banget dilakukan. Kita cenderung menyerbu masuk, untuk memperbaiki segala sesuatunya dengan nasihat yang baik. Tetapi, kita acap kali gagal meluangkan waktu untuk mendiagnosa, untuk benar-benar mengerti secara mendalam masalahnya terlebih dahulu. Prinsip berusaha mengerti terlebih dahulu, baru dimengerti, adalah kunci untuk komunikasi antar pribadi yang efektif. Intinya mendengarkan dengan empati, tidak segala sesuatu diterapkan sesuai keadaan diri kita.

Setelah itu, baru berusaha untuk dimengerti. Berusaha mengerti, membutuhkan tenggang rasa; berusaha untuk dimengerti membutuhkan keberanian. Menang/menang membutuhkan kadar yang tinggi dari keduanya. Jadi, di dalam situasi kesalingtergantungan, penting sekali bagi kita untuk juga dimengerti. Bukan sekedar mengerti, tetapi setelah itu tercapai… keberanian harus muncul juga untuk berusaha dimengerti..:)

Published in: on September 28, 2008 at 9:04 am  Leave a Comment  

Kebiasaan 4 – berpikir menang/menang

hai, masih berbicara tentang the 7 habits of highly effective people, saat ini kita sudah masuk ke kebiasaan 4, berpikir menang/menang. Pada bab ini, kita sudah mulai mendapatkan penjelasan tentang bagaimana berinteraksi dengan orang lain. Jadi jika kebiasaan satu sampai tiga adalah kebiasaan dalam diri kita pribadi, mulai kebiasaan 4 ini sudah menuju kesalingtergantungan dengan pihak lain. Intinya, harus paham dulu kebiasaan 1-3.

Issue awal yang dikemukakan dibuku ini adalah adanya masalah disebuah perusahaan ketika tidak ada kerjasama diantara staf, tingkat kepercayaan rendah, dan sikap egoisme antar individu. Hal ini merupakan situasi yang tidak baik, karena kebiasaan kepemimpinan antar pribadi yang efektif adalah berpikir menang/menang [jika dibahasakan menurut bahasaku, mungkin bisa diartikan, kita menang dan orang lain juga menang]. Menang/menang bukanlah teknik, melainkan filosofi total interaksi manusia. Sebenarnya, ini merupakan salah satu dari enam paradigma interaksi. Pardigma alternatifnya adalah: [1] menang/menang, [2] menang/kalah, [3] kalah/menang, [4] kalah/kalah, [5] menang, [6] menang/menang atau tidak sama sekali.

Menang/menang adalah kerangka pikiran dan hati yang terus menerus mencari keuntungan bersama dalam semua interaksi manusia. Menang/menang berarti bahwa kesepakatan atau solusi memberikan keuntungan dan kepuasan timbal balik. Menang/menang melihat kehidupan sebagai arena koperatif bukan kompetitif. Hal ini berarti, keputusan bukan merupakan jalan anda atau jalan saya; ia adalah jalan yang lebih baik, jalan yang lebih tinggi.

Alternatif lain adalah menang/kalah. Paradigma ini mengatakan, “jika saya menang, anda kalah”. Dalam gaya kepemimpinan menang/kalah adalah pendekatan otoriter: “saya mendapatkan apa yang saya inginkan, anda tidak mendapatkan apa yang anda inginkan”. Pikiran ini yang sudah terpatri dikebanyakan orang. kadang anak sudah dicetak, dibentuk, diprogram dalam mentalitas menang/kalah.
Dan mentalitas menang/kalah menganggu fungsi kerja sama.

Ada orang yang terprogram oleh hukumlain-kalah/menang. Kalah/menang lebih buruk dari menang/kalah karena tidak mempunyai standar-tidak mempunyai tuntutan, tidak mempunyai harapan, tidak mempunyai visi. Orang yang berfikir kalah/menang biasanya cepat berusaha menyenangkan atau memenuhi tuntutan orang lain. Mereka hanya mempunyai sedikit keberanian untuk mengekspresikan perasaan dan keyakinan mereka dan dengan mudah diintimidasi oleh kekeuatan ego orang lain. Dalam gaya kepemimpinan, kalah/menang adalah sikap  permisif atau terlalu pemurah. Kalah/menang berarti menjadi orang baik, walaupun “orang baik berlari paling belakang”.

Kalah/kalah. Ketika orang menang/kalah berkumpul-yaitu ketika dua orang yang ulet, berkepala batu dan berinvestasi pada ego saling berinteraksi- hasilnya adalah kalah/kalah. Keduanya akan kalah. Keduanya sama-sama ingin membalas dendam.

Menang, Orang dengan mentalitas menang tidak harus menginginkan orang lain kalah. Hal itu tidak relevan. Yang penting adalah mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Pilihan yang terbaik mana? sebenarnya jawabannya adalah “tergantung” konteksnya.  Tetapi tentu saja jika harus memilih sebaiknya memang menang/menang ya? Prinsip menang/menang adalah dasar untuk keberhasilan pada semua interaksi kita. Ada juga orang yang berpikir menang/menang atau tidak sama sekali. Kalau tidak bisa menang/menang ya..lebih baik tidak usah saja.

Eh, yang menarik, dibuku ini dituliskan bahwa salah satu ciri karakter bagi menang/menang adalah mentalitas kelimpahan, paradigma bahwa ada banyak di luar sana untuk semua orang. Bukan mentalitas kelangkaan yang melihat bahwa hidup hanya memiliki sedemikian saja, seolah hanya ada satu kue diluar sana dan layak untuk diperebutkan. menarik kan?

ternyata, jika pribadi kita sudah berpikir menang/menang tetapi sistem dalam organisasi tempat kita bekerja punya sistem kerja menang/kalah. menurut buku ini, sama saja percuma… jadi sebaiknya sistem yang diciptakan menang/menang juga.

terakhir, dr Covey mengusulkan ada 4 langkah dalam proses penciptaan mentalitas menang/menang: [1] lihat masalah dari sudut pandang pihak lain. Usahakan mengerti dan peduli pada pihak lain, [2] kenali persoalan dan keprihatinan pokoknya (bukan posisi) yang terlibat, [3] tentukan hasil apa yang akan merupakan solusi yang dapat diterima sepenuhnya, [4] kenali pilihan-pilihan baru yang mungkin diambil untuk mencapai hasil-hasil tersebut.

Oke.. selamat bekerja dengan mentalitas menang/menang… 🙂

Published in: on September 24, 2008 at 12:18 pm  Leave a Comment  

kebiasaan 3 – Prinsip Manajemen Pribadi

Hai,

buat yang mengikuti cerita dari buku the 7 habits of highly effective people di blogku, ini ada kelanjutannya. Kita sampai di kebiasaan ke 3 yaitu mempraktekkan manajemen pribadi yang efektif. Dijelaskan bahwa manajemen itu  berbeda dengan kepemimpinan. Kepemimpinan merupakan aktifitas otak kanan yang tinggi. Kepemimpinan lebih merupakan seni yang didasari filosofi tertentu. Sedangkan manajemen merupakan aktifitas otak kiri yang terikat waktu dari pengaturan diri yang efektif. Istilah dibuku ini: Manajemenkan dari kiri; pimpinlah dari kanan.

Intisari dari bab ini adalah manajemen waktu:  organisir dan laksanakan menurut prioritas. Tetapi dalam perkembangannya, “manajemen waktu” sesungguhnya merupakan istilah yang tidak cocok-tantangannya bukanlah untuk mengatur waktu, melainkan mengatur diri sendiri [baca halaman 142]. Covey membagi masalah ini dalam matriks manajemen waktu melalui 4 kuadran. Kuadran 1: melaksanakan hal penting sekaligus genting; kuadran 2: melaksanakan hal penting tetapi tidak genting; kuadran 3: melaksanakan hal tidak penting tapi genting, dan kuadaran 4: melakukan hal tidak penting dan tidak genting. Jelas di kuadran 4 ini menunjukkan kinerja orang yang paling tidak efektif. Kuadran 1 berarti kita hanya melakukan hal yang berkaitan krisis atau masalah, orang yang digerakkan dengan batas waktu. Masalahnya jika ada masalah besar dan memukul kita, kita dapat terseret. Energi habis hanya untuk mengatasi masalah tanpa bisa berfikir kedepan. Kuadran 3 sebenarnya tidak jauh beda dengan kuadran 4. Kudran 2 merupakan inti dari manajemen pribadi yang efektif. Ia berhubungan dengan hal-hal seperti membina hubungan, menulis pernyataan misi, perencanaan jangka panjang, latihan, pemeliharaan pencegahan, dll. Peter Drucker mengemukakan bahwa orang yang efektif bukanlah orang yang pikirannya tertuju pada masalah; mereka adalah orang yang pikirannya tertuju pada peluang [halaman 145]. Mereka mempunyai krisis dan keadaan darurat kuadran 1 yang memerlukan perhatian, tetapi jumlahnya kecil. Hehe.. usahakan yok.. kerja di kuadran 2..

Gimana caranya untuk bisa pindah ke kuadran 2?.. Buat skala prioritas, mana yang harus dikerjakan dahulu. Menurut buku ini, cara yang baik untuk mengerjakan hal ini adalah dengan mengorganisir hidup secara MINGGUAN. Kita masih bisa beradaptasi dan menetapkan prioritas secara harian, tetapi dorongan dasarnya adalah mengorganisir mingguan karena dapat memberikan keseimbangan dan konteks yang jauh lebih besar daripada perencanaan harian. Buat tabel/jadwal kegiatan dalam mingguan sesuai dengan kondisi kita [misal sebagai istri, sebagai ibu, sebagai pegawai kantor, sebagai ibu RT, dll]. Dan setelah buat tabel, kerjakan…

Dibab ini diceritakan juga tentang pendelegasian kerja. Karena hal ini juga dapat membuat kita menjadi pribadi yang efektif. Pemindahan tanggung jawab kepada orang lain yang ahli dan terlatih memungkinkan kita memberi energi kepada aktivitas-aktivitas yang lain lho… Seorang produsen mengerjakan apa saja yang perlu untuk mencapai hasil yang diinginkan, misal sekretaris yang mengetik surat. Tapi jika seseorang mengatur dan bekerja bersama melalui orang dan sistem untuk mendapatkan hasil, maka orang itu menjadi manajer dalam pengertian salingtergantung. Ada dua jenis pendelegasian. [1] pendelegasian suruhan (Gofer Delegation); sebagai manajer, kita tinggal suruh orang lain melakukan tugas dengan cara mendikte mereka, metode kita yang atur. Menurut buku ini, jenis pendelegasian ini tidak baik. Jenis [2] Pendelegasian Pengurusan (Stewardship Delegation), Kita memberikan pilihan metode kepada orang lain dan membuat mereka bertanggung jawab atas hasil. Beri kebebasan mereka untuk menemukan cara yang tepat untuk menghasilkan sesuatu yang kita inginkan. Nah.. ini cara mendelegasikan yang baik…

Oke, bab ini menambah pengetahuan kita, dalam usaha kita menjadi manusia yang efektif.. Aku juga mau coba… Mau ikut coba…?

Sambil aku terusin baca ya, kita lihat kebiasaan 4 setelah aku selesai baca hehe 🙂

Published in: on September 18, 2008 at 3:20 pm  Leave a Comment  

Kebiasaan 2 – Merujuk pada tujuan akhir

kali ini, aku masih membahas buku the 7 habits of highly effective people. Dan aku akan bahas pada bab berikutnya tentang habit #2 yaitu merujuk pada tujuan akhir.  Diawal bab, Dr. Covey memberi judul Prinsip Kepemimpinan Pribadi. Tepat sekali, karena pada bab ini, beliau memfokuskan pada perlunya seseorang mempunyai prinsip dalam dirinya. Hal itu terungkap dalam pernyataan visi dan misi pribadi.

Bab ini menjadi menarik ketika covey meminta pembacanya membayangkan dan berimajinasi saat kita berada di pemakaman kita sendiri. Apa yang kita harapkan pada orang-orang yang mengenal kita. Sikap kita yang baikkah yang dikenang, atau sikap kita yang buruk yang selalu ada dibenak mereka. Jika kita akan melangkah, melakukan suatu kegiatan saat ini pikirkan apa yang akan kita maui kedepan. Itu pentingnya kita mempunyai pernyataan misi atas diri kita pribadi. Dalam hal ini, kita juga akan berurusan dengan visi dan nilai pribadi. Untuk menulis misi pribadi, kita harus memulai dari pusat pengaruh diri kita, dan, kalau mau merujuk pada sikap proaktif, tentu saja “prinsip” yang harus dipegang. Walaupun kita sadar bahwa kadang lingkungan mempengaruhi pusat pengaruh kita. Misal pusat pengaruh keluarga, uang, pekerjaan, teman, atau musuh. Tetapi meskipun hal itu berpengaruh, tetapi prinsip yang kuat tetap menjadi dasar kita dalam menentukan pilihan atas keadaan.

Kembali pada pernyataan misi pribadi. Ternyata hal itu baik juga dikembangkan dalam pernyataan misi organisasi lho.. Di tempatku bekerja, juga sudah ada pernyataan visi, misi dan nilai organisasi. Tetapi belum dihayati sepenuhnya oleh seluruh staf. Aku pikir, mulai sekarang harus segera disosialisasikan kepada semua staf, agar menjadi nafas di setiap kerja kami. Sehingga setiap yang kami kerjakan sesuai dengan pernyataan misi organisasi kami.

Sulit lho, membuat pernyataan misi pribadi, dibutuhkan perenungan yang dalam. Tapi, aku mulai mencoba untuk membuat pernyataan misi pribadi dan berkomitmen atas itu. PROAKTIF dan BEREMPATI… that’s me… hehe… 🙂

Published in: on September 14, 2008 at 9:43 am  Leave a Comment