kebiasaan 6 – wujudkan sinergi

hai,
kebiasaan ke 6 ini merupakan langkah ketiga dalam hubungan kita dengan orang lain. Menciptakan sinergi. Sinergi ini bisa dianalogikan dengan cara laki-laki dan perempuan membawa seorang anak ke dalam dunia. Intisari sinergi adalah menghargai perbedaan-menghormati perbedaan, membangun kekuatan, mengimbangi kelemahan. Ketika kita benar-benar membuka hati, pikiran, dan ekspresi kita pada kemungkinan baru, alternatif baru, pilihan baru, berarti kita telah berkomunikasi secara sinergik.
Mengapa demikian?, karena ketika kita menghargai perbedaan kita justru akan menambah pengetahuan. Kita dapat menghargai perbedaan dalam diri orang lain. Ketika seorang tidak setuju dengan kita, kita bisa mengatakan, ” bagus!, anda melihatnya dengan cara berbeda” kita tidak perlu setuju dengan orang lain; kita dapat sekedar meneguhkan orang lain. Dan kita dapat berusaha untuk mengerti.
Bersinergi beda dengan kompromi lho… Kompromi berarti 1+1=1 1/2. Keduanya sama-sama memberi dan menerima. Sinergi berarti 1+1 sama dengan 8, 16, atau bahkan 1600. Posisi sinergistik dari kepercayaan yang tinggi menghasilkan solusi yang lebih baik dibandingkan dengan diusulkan semula, dan semua pihak mengetahuinya.
Ketika kita melihat hanya dua alternatif-alternatif diri kita dan alternatif yang “salah”- kita dapat mencari alternatif ketiga yang sinergik. Hampir selalu ada alternatif ketiga, dan jika kita bekerja dengan filosofi menang/menang dan benar-benar berusaha untuk mengerti, kita biasanya dapat menemukan solusi yang akan lebih baik bagi semua pihak yang berkepentingan.

Oke, waktunya untuk merealisasikannya.. šŸ™‚

Published in: on September 30, 2008 at 8:37 am  Leave a Comment  

kebiasaan 5 – berusaha mengerti terlebih dahulu, baru dimengerti

Hai,

Saat ini kita sudah masuk ke kebiasaan 5, tentu saja masih dari bukuĀ the 7 habits of highly effective people. Di kebiasaan 4, kita sudah mulai masuk pada kebiasaan dalam hubungan kita dengan orang lain yaitu berfikir menang/menang. Saat ini kita juga belajar pola interaksi kita dengan orang lain. Diawal bab ini, ada cerita menarik. Ada orang yang bermasalah dengan penglihatannya alias susah melihat. Kemudian dia pergi ke ahli kecamata untuk mencari solusi. Sesudah mendengar keluhan secara singkat, si ahli kacamata melepaskan kacamatanya dan memberikan ke orang yang sakit mata. Dia bilang, “kenakan kacamata ini, aku sudah pakai kacamata ini sepuluh tahun, dan kacamata ini benar-benar membantu aku. aku masih punya satu lagi di rumah, yang ini untuk kamu”. Tetapi setelah memakai kacamata itu, orang yang sakit tidak tambah jelas penglihatannya tetapi malah tambah kabur. Ketika si sakit komplain, tukang kacamata marah.. “kamu gimana sih…. maksudku baik, memberi kamu kacamata.. tapi kamu bilang tidak cocok..Ā kamu benar-benar tidak tahu berterima kasih!”

Cerita itu sebagai contoh, kadang kita langsung memberi solusi pada orang yang minta pertolongan tanpa mau mengerti dahulu apa yang terjadi. Memang benar ya.. mendengar itu susah banget dilakukan. Kita cenderung menyerbu masuk, untuk memperbaiki segala sesuatunya dengan nasihat yang baik. Tetapi, kita acap kali gagal meluangkan waktu untuk mendiagnosa, untuk benar-benar mengerti secara mendalam masalahnya terlebih dahulu. Prinsip berusaha mengerti terlebih dahulu, baru dimengerti, adalah kunci untuk komunikasi antar pribadi yang efektif. Intinya mendengarkan dengan empati, tidak segala sesuatu diterapkan sesuai keadaan diri kita.

Setelah itu, baru berusaha untuk dimengerti. Berusaha mengerti, membutuhkan tenggang rasa; berusaha untuk dimengerti membutuhkan keberanian. Menang/menang membutuhkan kadar yang tinggi dari keduanya. Jadi, di dalam situasi kesalingtergantungan, penting sekali bagi kita untuk juga dimengerti. Bukan sekedar mengerti, tetapi setelah itu tercapai… keberanian harus muncul juga untuk berusaha dimengerti..:)

Published in: on September 28, 2008 at 9:04 am  Leave a Comment  

Kebiasaan 4 – berpikir menang/menang

hai, masih berbicara tentang the 7 habits of highly effective people, saat ini kita sudah masuk ke kebiasaan 4, berpikir menang/menang. Pada bab ini, kita sudah mulai mendapatkan penjelasan tentang bagaimana berinteraksi dengan orang lain. Jadi jika kebiasaan satu sampai tiga adalah kebiasaan dalam diri kita pribadi, mulai kebiasaan 4 ini sudah menuju kesalingtergantungan dengan pihak lain. Intinya, harus paham dulu kebiasaan 1-3.

Issue awal yang dikemukakan dibuku ini adalah adanya masalah disebuah perusahaan ketika tidak ada kerjasama diantara staf, tingkat kepercayaan rendah, dan sikap egoisme antar individu. Hal ini merupakan situasi yang tidak baik, karena kebiasaan kepemimpinan antar pribadi yang efektif adalah berpikir menang/menang [jika dibahasakan menurut bahasaku, mungkin bisa diartikan, kita menang dan orang lain juga menang]. Menang/menang bukanlah teknik, melainkan filosofi total interaksi manusia. Sebenarnya, ini merupakan salah satu dari enam paradigma interaksi. Pardigma alternatifnya adalah: [1] menang/menang, [2] menang/kalah, [3] kalah/menang, [4] kalah/kalah, [5] menang, [6] menang/menang atau tidak sama sekali.

Menang/menang adalah kerangka pikiran dan hati yang terus menerus mencari keuntungan bersama dalam semua interaksi manusia. Menang/menang berarti bahwa kesepakatan atau solusi memberikan keuntungan dan kepuasan timbal balik. Menang/menang melihat kehidupan sebagai arena koperatif bukan kompetitif. Hal ini berarti, keputusan bukan merupakan jalan anda atau jalan saya; ia adalah jalan yang lebih baik, jalan yang lebih tinggi.

Alternatif lain adalah menang/kalah. Paradigma ini mengatakan, “jika saya menang, anda kalah”. Dalam gaya kepemimpinan menang/kalah adalah pendekatan otoriter: “saya mendapatkan apa yang saya inginkan, anda tidak mendapatkan apa yang anda inginkan”. Pikiran ini yang sudah terpatri dikebanyakan orang. kadang anak sudah dicetak, dibentuk, diprogram dalam mentalitas menang/kalah.
Dan mentalitas menang/kalah menganggu fungsi kerja sama.

Ada orang yang terprogram oleh hukumlain-kalah/menang. Kalah/menang lebih buruk dari menang/kalah karena tidak mempunyai standar-tidak mempunyai tuntutan, tidak mempunyai harapan, tidak mempunyai visi. Orang yang berfikir kalah/menang biasanya cepat berusaha menyenangkan atau memenuhi tuntutan orang lain. Mereka hanya mempunyai sedikit keberanian untuk mengekspresikan perasaan dan keyakinan mereka dan dengan mudah diintimidasi oleh kekeuatan ego orang lain. Dalam gaya kepemimpinan, kalah/menang adalah sikapĀ  permisif atau terlalu pemurah. Kalah/menang berarti menjadi orang baik, walaupun “orang baik berlari paling belakang”.

Kalah/kalah. Ketika orang menang/kalah berkumpul-yaitu ketika dua orang yang ulet, berkepala batu dan berinvestasi pada ego saling berinteraksi- hasilnya adalah kalah/kalah. Keduanya akan kalah. Keduanya sama-sama ingin membalas dendam.

Menang, Orang dengan mentalitas menang tidak harus menginginkan orang lain kalah. Hal itu tidak relevan. Yang penting adalah mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Pilihan yang terbaik mana? sebenarnya jawabannya adalah “tergantung” konteksnya.Ā  Tetapi tentu saja jika harus memilih sebaiknya memang menang/menang ya? Prinsip menang/menang adalah dasar untuk keberhasilan pada semua interaksi kita. Ada juga orang yang berpikir menang/menang atau tidak sama sekali. Kalau tidak bisa menang/menang ya..lebih baik tidak usah saja.

Eh, yang menarik, dibuku ini dituliskan bahwa salah satu ciri karakter bagi menang/menang adalah mentalitas kelimpahan, paradigma bahwa ada banyak di luar sana untuk semua orang. Bukan mentalitas kelangkaan yang melihat bahwa hidup hanya memiliki sedemikian saja, seolah hanya ada satu kue diluar sana dan layak untuk diperebutkan. menarik kan?

ternyata, jika pribadi kita sudah berpikir menang/menang tetapi sistem dalam organisasi tempat kita bekerja punya sistem kerja menang/kalah. menurut buku ini, sama saja percuma… jadi sebaiknya sistem yang diciptakan menang/menang juga.

terakhir, dr Covey mengusulkan ada 4 langkah dalam proses penciptaan mentalitas menang/menang: [1] lihat masalah dari sudut pandang pihak lain. Usahakan mengerti dan peduli pada pihak lain, [2] kenali persoalan dan keprihatinan pokoknya (bukan posisi) yang terlibat, [3] tentukan hasil apa yang akan merupakan solusi yang dapat diterima sepenuhnya, [4] kenali pilihan-pilihan baru yang mungkin diambil untuk mencapai hasil-hasil tersebut.

Oke.. selamat bekerja dengan mentalitas menang/menang… šŸ™‚

Published in: on September 24, 2008 at 12:18 pm  Leave a Comment  

kebiasaan 3 – Prinsip Manajemen Pribadi

Hai,

buat yang mengikuti cerita dari buku the 7 habits of highly effective people di blogku, ini ada kelanjutannya. Kita sampai di kebiasaan ke 3 yaitu mempraktekkan manajemen pribadi yang efektif. Dijelaskan bahwa manajemen ituĀ  berbeda dengan kepemimpinan. Kepemimpinan merupakan aktifitas otak kanan yang tinggi. Kepemimpinan lebih merupakan seni yang didasari filosofi tertentu. Sedangkan manajemen merupakan aktifitas otak kiri yang terikat waktu dari pengaturan diri yang efektif. Istilah dibuku ini: Manajemenkan dari kiri; pimpinlah dari kanan.

Intisari dari bab ini adalah manajemen waktu:Ā  organisir dan laksanakan menurut prioritas. Tetapi dalam perkembangannya, “manajemen waktu” sesungguhnya merupakan istilah yang tidak cocok-tantangannya bukanlah untuk mengatur waktu, melainkan mengatur diri sendiri [baca halaman 142]. Covey membagi masalah ini dalam matriks manajemen waktu melalui 4 kuadran. Kuadran 1: melaksanakan hal penting sekaligus genting; kuadran 2: melaksanakan hal penting tetapi tidak genting; kuadran 3: melaksanakan hal tidak penting tapi genting, dan kuadaran 4: melakukan hal tidak penting dan tidak genting. Jelas di kuadran 4 ini menunjukkan kinerja orang yang paling tidak efektif. Kuadran 1 berarti kita hanya melakukan hal yang berkaitan krisis atau masalah, orang yang digerakkan dengan batas waktu. Masalahnya jika ada masalah besar dan memukul kita, kita dapat terseret. Energi habis hanya untuk mengatasi masalah tanpa bisa berfikir kedepan. Kuadran 3 sebenarnya tidak jauh beda dengan kuadran 4. Kudran 2 merupakan inti dari manajemen pribadi yang efektif. Ia berhubungan dengan hal-hal seperti membina hubungan, menulis pernyataan misi, perencanaan jangka panjang, latihan, pemeliharaan pencegahan, dll. Peter Drucker mengemukakan bahwa orang yang efektif bukanlah orang yang pikirannya tertuju pada masalah; mereka adalah orang yang pikirannya tertuju pada peluang [halaman 145]. Mereka mempunyai krisis dan keadaan darurat kuadran 1 yang memerlukan perhatian, tetapi jumlahnya kecil. Hehe.. usahakan yok.. kerja di kuadran 2..

Gimana caranya untuk bisa pindah ke kuadran 2?.. Buat skala prioritas, mana yang harus dikerjakan dahulu. Menurut buku ini, cara yang baik untuk mengerjakan hal ini adalah dengan mengorganisir hidup secara MINGGUAN. Kita masih bisa beradaptasi dan menetapkan prioritas secara harian, tetapi dorongan dasarnya adalah mengorganisir mingguan karena dapat memberikan keseimbangan dan konteks yang jauh lebih besar daripada perencanaan harian. Buat tabel/jadwal kegiatan dalam mingguan sesuai dengan kondisi kita [misal sebagai istri, sebagai ibu, sebagai pegawai kantor, sebagai ibu RT, dll]. Dan setelah buat tabel, kerjakan…

Dibab ini diceritakan juga tentang pendelegasian kerja. Karena hal ini juga dapat membuat kita menjadi pribadi yang efektif. Pemindahan tanggung jawab kepada orang lain yang ahli dan terlatih memungkinkan kita memberi energi kepada aktivitas-aktivitas yang lain lho… Seorang produsen mengerjakan apa saja yang perlu untuk mencapai hasil yang diinginkan, misal sekretaris yang mengetik surat. Tapi jika seseorang mengatur dan bekerja bersama melalui orang dan sistem untuk mendapatkan hasil, maka orang itu menjadi manajer dalam pengertian salingtergantung. Ada dua jenis pendelegasian. [1] pendelegasian suruhan (Gofer Delegation); sebagai manajer, kita tinggal suruh orang lain melakukan tugas dengan cara mendikte mereka, metode kita yang atur. Menurut buku ini, jenis pendelegasian ini tidak baik. Jenis [2] Pendelegasian Pengurusan (Stewardship Delegation), Kita memberikan pilihan metode kepada orang lain dan membuat mereka bertanggung jawab atas hasil. Beri kebebasan mereka untuk menemukan cara yang tepat untuk menghasilkan sesuatu yang kita inginkan. Nah.. ini cara mendelegasikan yang baik…

Oke, bab ini menambah pengetahuan kita, dalam usaha kita menjadi manusia yang efektif.. Aku juga mau coba… Mau ikut coba…?

Sambil aku terusin baca ya, kita lihat kebiasaan 4 setelah aku selesai baca hehe šŸ™‚

Published in: on September 18, 2008 at 3:20 pm  Leave a Comment  

Kebiasaan 2 – Merujuk pada tujuan akhir

kali ini, aku masih membahas buku the 7 habits of highly effective people. Dan aku akan bahas pada bab berikutnya tentang habit #2 yaitu merujuk pada tujuan akhir.Ā  Diawal bab, Dr. Covey memberi judul Prinsip Kepemimpinan Pribadi. Tepat sekali, karena pada bab ini, beliau memfokuskan pada perlunya seseorang mempunyai prinsip dalam dirinya. Hal itu terungkap dalam pernyataan visi dan misi pribadi.

Bab ini menjadi menarik ketika covey meminta pembacanya membayangkan dan berimajinasi saat kita berada di pemakaman kita sendiri. Apa yang kita harapkan pada orang-orang yang mengenal kita. Sikap kita yang baikkah yang dikenang, atau sikap kita yang buruk yang selalu ada dibenak mereka. Jika kita akan melangkah, melakukan suatu kegiatan saat ini pikirkan apa yang akan kita maui kedepan. Itu pentingnya kita mempunyai pernyataan misi atas diri kita pribadi. Dalam hal ini, kita juga akan berurusan dengan visi dan nilai pribadi. Untuk menulis misi pribadi, kita harus memulai dari pusat pengaruh diri kita, dan, kalau mau merujuk pada sikap proaktif, tentu saja “prinsip” yang harus dipegang. Walaupun kita sadar bahwa kadang lingkungan mempengaruhi pusat pengaruh kita. Misal pusat pengaruh keluarga, uang, pekerjaan, teman, atau musuh. Tetapi meskipun hal itu berpengaruh, tetapi prinsip yang kuat tetap menjadi dasar kita dalam menentukan pilihan atas keadaan.

Kembali pada pernyataan misi pribadi. Ternyata hal itu baik juga dikembangkan dalam pernyataan misi organisasi lho.. Di tempatku bekerja, juga sudah ada pernyataan visi, misi dan nilai organisasi. Tetapi belum dihayati sepenuhnya oleh seluruh staf. Aku pikir, mulai sekarang harus segera disosialisasikan kepada semua staf, agar menjadi nafas di setiap kerja kami. Sehingga setiap yang kami kerjakan sesuai dengan pernyataan misi organisasi kami.

Sulit lho, membuat pernyataan misi pribadi, dibutuhkan perenungan yang dalam. Tapi, aku mulai mencoba untuk membuat pernyataan misi pribadi dan berkomitmen atas itu. PROAKTIF dan BEREMPATI… that’s me… hehe… šŸ™‚

Published in: on September 14, 2008 at 9:43 am  Leave a Comment  

Kebiasaan 1 – Jadilah proaktif

Melanjutkan resume the 7 habits, saat ini bacaanku sudah sampai pada habit yang pertama, yaitu jadilah proaktif.Ā  Apa yang bisa aku pelajari dari bagian ini?

Proaktif disini diartikan, bahwa sebagai manusia, kita bertanggung jawab atas hidup kita sendiri. Perilaku kita adalah fungsi dari keputusan kita, bukan kondisi kita. Kita mempunyai inisiatif dan tanggung jawab untuk membuat segala sesuatunya terjadi. Orang yang sangat proaktif mengenali tanggung jawab itu. Mereka tidak menyalahkan keadaan, kondisi, atau pengkondisian untuk perilaku mereka. Jika menyalahkan keadaan, kita menjadi orang yang reaktif. Orang yang reaktif seringkali dipengaruhi oleh lingkungan fisik mereka. Jika “cuaca” bagus, mereka merasa senang. Jika tidak, “cuaca” itu mempengaruhi sikap dan prestasi kerja mereka. Orang yang proaktif dapat mengatur “cuaca” mereka sendiri. Entah hujan atau cerah, tidak ada bedanya bagi mereka. Mereka digerakkan oleh nilai, dan nilai mereka adalah untuk menghasilkan kerja yang berkualitas. Orang reaktif juga dipengaruhi oleh lingkungan sosial mereka. Jika orang memperlakukan mereka baik, mereka akan senang. Saat orang berlaku tidak baik kepadanya, mereka menjadi defensif atau protektif. Orang reaktif memberikan kekuatan pada kelemahan orang lain untuk bisa mengendalikan mereka. Wah… jadi sering melemparkan kesalahan pada orang lain juga dong…

Orang proaktif akan menggerakkan pengaruh dari dalam dirinya untuk memberikan energi positif kepada lingkungannya. Bahkan bahasa yang diucapkan akan membawa pengaruh positif bagi lingkungannya. dia tidak akan mengatakan “saya ingin mempunyai bos atau pimpinan yang tidak pernah mengatur karyawan”, tetapi orang proaktif akan mengatakan “saya ingin menjadi karyawan yang bekerja dengan baik, sehingga apa yang saya lakukan dapat mengembangkan perusahaan dan memberikan inspirasi dan rekomendasi bagi pimpinan saya”. Menyenangkan bukan, ternyata bahasa dapat menentukan proaktif atau reaktifkah kita.

Pendekatan proaktif terhadap suatu kesalahan adalah dengan langsung mengakuinya, memperbaikinya, dan belajar darinya. Hal ini benar-benar mengubah kegagalan menjadi keberhasilan. Tetapi jika tidak mau mengakui kesalahan, tidak memperbaiki dan belajar darinya, maka itu merupakan kesalahan dari urutan yang berbeda. Biasanya hal ini membuat orang menipu diri dan membenarkan diri dan sering melibatkan rasionalisasi (kebohongan yang rasional). Respons kita pada setiap kesalahan mempengaruhi kualitas momen berikutnya. Adalah penting untuk segera mengakui dan memperbaiki kesalahan kita sehingga kita mempunyai kekuatan lagi [baca halaman 81 dan 82].

Setelah baca bagian ini, ingin rasanya segera mempraktekkan untuk menjadi manusia proaktif…ceile….. Dimulai dengan berusaha untuk menjadi, bukan sekedar ingin mempunyai. Karena ini adalah tahap pertama untuk menjadi effective people… šŸ™‚

Published in: on September 12, 2008 at 3:47 pm  Leave a Comment  

efektivitas

hai,

mau melanjutkan hasil baca buku the 7 habits neh…

hari ini aku belajar tentang efektivitas ala covey. menurut buku ini, efektivitas terletak pada keseimbangan-apa yang disebut P/KP. P singkatan dari produksi hasil yang diinginkan dan KP singkatan dari kemampuan produksi, kemampuan atau aset untuk menghasilkan. prinsip ini dapat dimengerti dengan mudah kalau mengingat fabel aesop tentang angsa dan telur emas [baca halaman 43].

diceritakan seorang petani yang mempunyai angsa yang bertelur emas. petani sangat senang karena setiap hari angsanya bertelur emas.. namun sewaktu dia bertambah kaya, sifat tamaknya muncul. dia tidak sabar untuk menunggu setiap hari sang angsa bertelur. dia memutuskan untuk membunuh sang angsa karena berfikir didalam perut angsa, banyak sekali telur emasnya. sayang, sanga angsa akhirnya mati dan petani tidak lagi mendapat telur emas.

kebanyakan orang melihat efektivitas pada paradigma telur emas: semakin banyak anda menghasilkan, semakin banyak anda bekerja, semakin efektif anda jadinya. tetapi yang penting bukan sekedar berfokus pada telur emas atau angsa saja. tetapi keseimbangan antara keduanya antara P dan KP.

Pada dasarnya ada tiga jebis aset: fisik, keuangan dan manusia. aset fisik misalnya kita punya mesin fotocopy. jika melakukan investasi pada aset, maka ada perawatan untuk mesin. tidak sekedar memikirkan berapa banyak hasil yang diperoleh dari mesin fotocopy. aset keuangan misalnya dengan tidak menggunakan uang pokok untuk peningkatan standar hidup. aset manusia misalnya kita berharap agar kamar anak kita selalu bersih. fokuskan pada pemberdayaan sang anak agar rela hati-tanpa paksaan- merawat kamarnya. sehingga fokus tidak sekedar kamar bersih…

inti yang bisa aku ambil adalah jika mau jadi orang yang efektif, seimbangkan P dan KP. karena keseimbangan P dan KP adalah inti dari efektivitas itu sendiri…

Published in: on September 10, 2008 at 9:34 am  Leave a Comment  

dari dalam keluar – belajar dari covey

hari ini aku baca buku ‘the 7 habits of highly effective people’ karya Stephen R. Covey. sebenarnya ini buku lama dan sudah lama jga aku pengen baca. tapi sejak dulu cuma bisa buka-buka tanpa dibaca. bab pertama buku ini sudah memberikan pencerahan ke diriku untuk dalam usaha menjadi effective people hehe…

ada ajaran tantang etika karakter dan etika kepribadian. dalam etika karakter, hal-hal seperti integritas, kerendahan hati, kesetiaan, pembatasan diri, keberanian, keadilan, kesabaran, kerajinan, kesederhanaan, kesopanan menjadi dasar dari keberhasilan. etika karakter mengajarkan bahwa terdapat prinsip-prinsip dasar kehidupan yang efektif, bahwa orang hanya dapat mengalami keberhasilan yang sejati dan kebahagiaan yang abadi jika mereka belajar dan menngintegrasikan prinsip-prinsip tersebut ke dalam karakter dasar mereka. sedangkan etika kepribadian -yang menurutku lebih sering tampak dalam kehidupan setiap manusia, termasuk aku- menjelaskan bahwa keberhasilan lebih merupakan ‘suatu fungsi kepribadian, citra masyarakat, sikap dan perilaku, ketrampilan dan teknik, yang melicinkan proses interaksi manusia. pendekatan ini manipulatif, seringkali menipu, mendorong orang melakukan teknik-teknik tertentu untuk membuat orang lain menyukai mereka [baca di halaman 7]

yang menarik lagi, ternyata apa yang dipikirkan atau dilakukanĀ seseorang yang dia anggap baik atau obyektif, ternyata bisa jadi tidak menjadi obyektif bagi orang lain. karena penafsiran masing-masing orang tentang fakta, ternyata menggambarkan pengalaman sebelumnya. kita masing-masing cenderungĀ berpikir bahwa kita sudah obyektif. namun kenyataannya tidakĀ demikian.Ā jadi ternyata salah banget kalau kita berpikir selalu benar atas sebuah keadaan. orang lain yang melihat hal yang sama dengan kita.. bisa jadi berkata lain… dari sini aku disadarkan bahwa benar untukku belum tentu benar untuk yang lain.

diakhir bab ini dijelaskan bahwa baik jika kita berpikir setiap apa yang kita lakukan berpusat pada prinsip DARI DALAM KE LUAR. yang berarti kita memulai dengan bagian paling dalam dari diri sendiri-dengan paradigma, karakter dan motif kita. setelah itu baru bergerak keluar.

dari bab awal buku ini aku belajar, untuk mengubah paradigma pikir dan juga perilaku serta pikiran dengan menggunakan prinsip dari dalam keluar.ubah diri aku sendiri dahulu baru pikirkan orang lain. šŸ™‚

Published in: on September 7, 2008 at 4:26 pm  Leave a Comment