Kebiasaan 4 – berpikir menang/menang

hai, masih berbicara tentang the 7 habits of highly effective people, saat ini kita sudah masuk ke kebiasaan 4, berpikir menang/menang. Pada bab ini, kita sudah mulai mendapatkan penjelasan tentang bagaimana berinteraksi dengan orang lain. Jadi jika kebiasaan satu sampai tiga adalah kebiasaan dalam diri kita pribadi, mulai kebiasaan 4 ini sudah menuju kesalingtergantungan dengan pihak lain. Intinya, harus paham dulu kebiasaan 1-3.

Issue awal yang dikemukakan dibuku ini adalah adanya masalah disebuah perusahaan ketika tidak ada kerjasama diantara staf, tingkat kepercayaan rendah, dan sikap egoisme antar individu. Hal ini merupakan situasi yang tidak baik, karena kebiasaan kepemimpinan antar pribadi yang efektif adalah berpikir menang/menang [jika dibahasakan menurut bahasaku, mungkin bisa diartikan, kita menang dan orang lain juga menang]. Menang/menang bukanlah teknik, melainkan filosofi total interaksi manusia. Sebenarnya, ini merupakan salah satu dari enam paradigma interaksi. Pardigma alternatifnya adalah: [1] menang/menang, [2] menang/kalah, [3] kalah/menang, [4] kalah/kalah, [5] menang, [6] menang/menang atau tidak sama sekali.

Menang/menang adalah kerangka pikiran dan hati yang terus menerus mencari keuntungan bersama dalam semua interaksi manusia. Menang/menang berarti bahwa kesepakatan atau solusi memberikan keuntungan dan kepuasan timbal balik. Menang/menang melihat kehidupan sebagai arena koperatif bukan kompetitif. Hal ini berarti, keputusan bukan merupakan jalan anda atau jalan saya; ia adalah jalan yang lebih baik, jalan yang lebih tinggi.

Alternatif lain adalah menang/kalah. Paradigma ini mengatakan, “jika saya menang, anda kalah”. Dalam gaya kepemimpinan menang/kalah adalah pendekatan otoriter: “saya mendapatkan apa yang saya inginkan, anda tidak mendapatkan apa yang anda inginkan”. Pikiran ini yang sudah terpatri dikebanyakan orang. kadang anak sudah dicetak, dibentuk, diprogram dalam mentalitas menang/kalah.
Dan mentalitas menang/kalah menganggu fungsi kerja sama.

Ada orang yang terprogram oleh hukumlain-kalah/menang. Kalah/menang lebih buruk dari menang/kalah karena tidak mempunyai standar-tidak mempunyai tuntutan, tidak mempunyai harapan, tidak mempunyai visi. Orang yang berfikir kalah/menang biasanya cepat berusaha menyenangkan atau memenuhi tuntutan orang lain. Mereka hanya mempunyai sedikit keberanian untuk mengekspresikan perasaan dan keyakinan mereka dan dengan mudah diintimidasi oleh kekeuatan ego orang lain. Dalam gaya kepemimpinan, kalah/menang adalah sikap  permisif atau terlalu pemurah. Kalah/menang berarti menjadi orang baik, walaupun “orang baik berlari paling belakang”.

Kalah/kalah. Ketika orang menang/kalah berkumpul-yaitu ketika dua orang yang ulet, berkepala batu dan berinvestasi pada ego saling berinteraksi- hasilnya adalah kalah/kalah. Keduanya akan kalah. Keduanya sama-sama ingin membalas dendam.

Menang, Orang dengan mentalitas menang tidak harus menginginkan orang lain kalah. Hal itu tidak relevan. Yang penting adalah mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Pilihan yang terbaik mana? sebenarnya jawabannya adalah “tergantung” konteksnya.  Tetapi tentu saja jika harus memilih sebaiknya memang menang/menang ya? Prinsip menang/menang adalah dasar untuk keberhasilan pada semua interaksi kita. Ada juga orang yang berpikir menang/menang atau tidak sama sekali. Kalau tidak bisa menang/menang ya..lebih baik tidak usah saja.

Eh, yang menarik, dibuku ini dituliskan bahwa salah satu ciri karakter bagi menang/menang adalah mentalitas kelimpahan, paradigma bahwa ada banyak di luar sana untuk semua orang. Bukan mentalitas kelangkaan yang melihat bahwa hidup hanya memiliki sedemikian saja, seolah hanya ada satu kue diluar sana dan layak untuk diperebutkan. menarik kan?

ternyata, jika pribadi kita sudah berpikir menang/menang tetapi sistem dalam organisasi tempat kita bekerja punya sistem kerja menang/kalah. menurut buku ini, sama saja percuma… jadi sebaiknya sistem yang diciptakan menang/menang juga.

terakhir, dr Covey mengusulkan ada 4 langkah dalam proses penciptaan mentalitas menang/menang: [1] lihat masalah dari sudut pandang pihak lain. Usahakan mengerti dan peduli pada pihak lain, [2] kenali persoalan dan keprihatinan pokoknya (bukan posisi) yang terlibat, [3] tentukan hasil apa yang akan merupakan solusi yang dapat diterima sepenuhnya, [4] kenali pilihan-pilihan baru yang mungkin diambil untuk mencapai hasil-hasil tersebut.

Oke.. selamat bekerja dengan mentalitas menang/menang… 🙂

Advertisements
Published in: on September 24, 2008 at 12:18 pm  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://nanapuspit.wordpress.com/2008/09/24/kebiasaan-4-berpikir-menangmenang/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: